Buru Oleh-Oleh khas Urang Awak di Dapur Neka

Buru Oleh-Oleh khas Urang Awak di Dapur Neka

RADAR PALEMBANG – Tidak hanya melejit dengan kuliner rendang hingga ke mancanegara, Sumatera Barat juga memiliki beragam kudapan yang kerap dijadikan oleh-oleh seperti sanjai, kerupuk jangek, galamai, dan lainnya.

Untuk mendapatkan oleh-oleh khas Padang ini sekarang jadi lebih mudah, tidak perlu repot harus mengunjungi daerah asalnya, karena Pojok Oleh-oleh Dapur Neka yang ada di Jalan Mayor Salim Batubara Lorong Nurul Huda, tepat di depan kantor PWNU Sumsel Sekip Pangkal Palembang menyediakan beragam makanan ringan khas Urang Awak.

Eka Anugriyah Femi, pemilik Pojok Oleh-oleh Dapur Neka menyebutkan, untuk oleh-oleh khas Padang, pihaknya sengaja mendatangkan khusus dari tempat asalnya seperti dari Pariaman, Padang Panjang dan lainnya.

“Kita ambil satu snack di tempat yang berbeda-beda dan menjadi khas daerah tersebut, misal kerupuk jangek, kita ambil di daerah tertentu dan kita pilih tempat produksinya yang paling enak dan kualitasnya bagus,” tuturnya saat dibincangi beberapa waktu lalu.

Aneka oleh-oleh khas Padang di Dapur Neka mulai dari sanjai, kerupuk jangek, ladu, kerupuk jengkol, bunga durian, keripik talas pedas, arai pinang, dakak-dakak, rakik maco, karak kaliang dan masih banyak lainnya.

“Kita jual per kemasan dengan ukuran mulai dari 130 gram dengan harga Rp 10.000 - Rp 20.000,” ujarnya.

Tak ketinggalan, tempat yang juga menyajikan masakan khas Padang ini menyediakan baluit kering atau belut kering yang dibanderol dengan harga Rp 25.000 per strip isi 10.

“Belut kering ini tinggal goreng dan dikasih sambal. Ini belut ternak, bukan belut yang ada di parit. Banyak daerah-daerah penghasil belut, tapi yang paling terkenal dan enak dari Pasaman. Insya Allah, yang kita ambil ini tempat-tempat yang best seller,” ucapnya.

Lanjut Eka, pihaknya juga berkeinginan untuk mendatangkan oleh-oleh asal Payakumbuh seperti galamai, bareh randang, dan lainnya. Namun, disebutkannya, oleh-oleh tersebut tidak memiliki daya tahan jika dibandingkan dengan sanjai, kerupuk jangek, dan lainnya.

“Seperti galamai, kalau terlalu lama bisa berjamur, cepat rusak,beda dengan oleh-oleh lainnya, makanya kita urungkan niat untuk menyediakannya,” tutupnya. (hen)

Sumber: