BANNER BSB
Banner Honda PCX 160 2025

Mengapa Awal Puasa Ramadhan Berbeda? Berikut Penjelasannya

Mengapa Awal Puasa Ramadhan Berbeda? Berikut Penjelasannya

Umat muslim di Indonesia mulai menjalankan ibadah puasa 1 Ramadhan 1447 H.--

PALEMBANG, RADARPALEMBANG.ID - Awal Puasa Ramadan 1447 H umat muslim di Indonesia tidak serentak, dikarenakan perbedaan awal Ramadan 1447 Hijriah antara pemerintah dengan organisasi Islam di Indonesia.

Pemerintah menetapkan 1 Ramadhan 1447 Hijriah pada hari Kamis 19 Februari 2026, sementara itu salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia, Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah menetapkan 1 Ramadhan 1447 Hijriah pada hari ini Rabu 18 Februari 2026.

Sehingga ada perbedaan awal puasa antara pemerintah dan Muhammadiyah.

Kenapa awal puasa bisa berbeda? Simak penjelasannya berikut ini:

BACA JUGA:MUI Resmi Terbitkan 9 Taushiyah Sambut Ramadhan 1447 H, Mulai Dari Puasa hingga Etika Bermedia Sosial

Terdapat dua metode paling sering digunakan untuk penentuan 1 Ramadhan di Indonesia, yakni hisab (perhitungan astronomi) dan rukyat (pemantauan hilal). 

Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Antariksa Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Thomas Jamaludin menjelaskan dua metode ini saling melengkapi dalam penentuan Ramadan termasuk juga Idulfitri.

Dia menjelaskan metode rukyat merupakan pengamatan langsung terhadap hilal. Ilmu hisab ini merupakan ilmu perhitungan posisi bulan dan matahari.

"Hasil rukyat diformulasikan menjadi formulasi perhitungan posisi bulan dan kemudian dari hasil berhitungan itu bisa digunakan untuk memperkirakan rukyatnya," papar Thomas dalam BRIN Talkshow Potensi Awal Puasa dan Lebaran Menurut Ilmu Astronomi dikutip dari laman YouTube BRIN, Rabu 18 Februari 2026.

BACA JUGA:Doa Buka Puasa Ramadhan, Berikut Lima Opsi yang Bisa Kamu Baca

Dalam hal ini, rukyat melihat pada bukti fisik perubahan siklus bulan. Tetapi perhitungan rukyat dipengaruhi faktor cuaca dan kontras cahaya senja.

"Jadi sebenarnya hisab dan rukyat ini bisa saling melengkapi," jelas dia.

Thomas menyebut penetapan awal bulan Hijriah di Indonesia kerap terjadi perbedaan. Dia menegaskan penyebab utama bukan perbedaan metode hisab dan rukyat, melainkan perbedaan dalam menentukan kriteria hilal.

"Ternyata sebabnya karena perbedaan kriteria. Ketika menggunakan kriteria apakah bulan ini bisa teramati atau tidak, itu biasanya mensyaratkan ketinggian tertentu atau jarak bulan dan matahari yang disebut elongasi tertentu," ujarnya. 

Sumber:

Berita Terkait