BPS Catatkan Inflasi Sumsel Meroket 3,33 Persen YoY, Dipicu Tak Ada Diskon Listrik dan Kenaikan Emas
BPS Sumsel mengalami inflasi sebesar 3,33% secara year on year (yoy) pada Januari 2026 dipicu ketiadaan diskon listrik dan kenaikan harga emas.--
PALEMBANG, RADARPALEMBANG.ID - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) mengalami inflasi sebesar 3,33% secara year on year (yoy) pada Januari 2026.
Statistisi Ahli Madya Statistik Distribusi BPS Sumatra Selatan Tituk Indrawati mengatakan, tingkat inflasi tersebut lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun 2025.
Sejumlah komoditas pangan dan logam mulia tercatat menjadi penyumbang utama kenaikan harga pada awal tahun 2026.
Berdasarkan rilis Berita Resmi Statistik (BRS), Senin 2 Februari 2026), inflasi bulanan di Sumsel didorong oleh naiknya harga emas, tomat, bawang putih, serta kacang panjang.
BACA JUGA:Warning, Hampir Seluruh Komponen Penyumbang Inflasi Alami Tren Kenaikan
"Januari (2026), Sumsel memang sedikit berbeda arah dari nasional,"ungkap dia.
Salah satu faktor pendorongnya adalah ketiadaan kebijakan diskon tarif listrik yang pada tahun sebelumnya diberlakukan pada Januari hingga Februari.
"Tahun lalu memang karena ada diskon tarif listrik sehingga turun [deflasi], sedangkan tahun ini kita kembali normal,"katanya.
Ketiadaan diskon tarif listrik mendorong inflasi pada kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga yang tercatat mengalami inflasi sebesar 10,42% dengan andil inflasi mencapai 1,33%.
BACA JUGA:Sumsel Alami Inflasi Tahunan 2,91 Persen Sepanjang 2025, BPS Catat 5 Komoditas Ini Penyebab Utamanya
BACA JUGA:Jelang Natal dan Tahun Baru, Bank Indonesia Gelar Rakor TPID Sumsel 2025 untuk Kendali Inflasi
Menurut Tituk, komoditas yang memberikan tekanan terbesar terhadap inflasi di Sumatera Selatan adalah emas perhiasan.
Komoditas tersebut masuk dalam kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya yang mencatat inflasi sebesar 22,86% dengan andil inflasi mencapai 1,77%.
Sumber:


