Mantan awak Yamaha yang lain menambahkan, “Produsen Jepang juga selalu tertinggal pada area tersebut. Itu kenapa mereka butuh orang-orang yang membaca regulasi seperti pabrikan Eropa.”
Dinamika MotoGP yang kini berkurang menjadi hingga seperseribu, menimbulkan pemikiran bahwa tim-tim Jepang bisa berkuasa. Perekrutan Luca Marmorini, untuk mengetahui kurangnya tenaga M1, Quartararo, menunjukkan bahwa pabrikan Iwata ingin mengejar lagi.
Sebaliknya Honda masih berusaha bangkit dengan kekuatan sendiri. “Kami akan keluar dari situasi ini karena kami adalah Honda dan kami selalu mampu,” ujar manajer HRC, Alberto Puig.
Dengan Suzuki keluar dari kompetisi akhir musim ini, dua pabrikan dari Negeri Matahari Terbit harus bertanya ke diri sendiri apakah harus mengubah metode dan sudut pandang, serta berapa lama yang dibutuhkan untuk melakukan itu.