BANNER BSB
Banner Honda PCX 160 2025

Puasa dan Aktualisasi Takwa dalam Produktivitas Layanan Publik

Puasa dan Aktualisasi Takwa dalam Produktivitas Layanan Publik

Puasa dan aktualisasi takwa dalam produktivitas layanan [email protected]

RADARPALEMBANG.ID -Berpuasa itu bukan menahan diri dalam ketidakberdayaan, melainkan menahan diri dalam kesanggupan untuk melakukan hal yang dicegah. Menahan diri dari amarah karena takut kepada orang yang menyebabkan marah itu wajar. 

Tetapi, menahan amarah di saat kita mampu melakukannya itulah moralitas takwa. Memberi di saat kita lapang itu hal lumrah, tetapi memberi di saat kita sedang susah itulah takwa

"Sanggup tidak melakukan korupsi pada saat memiliki kekuasaan, akses, dan kesempatan terbuka lebar itulah takwa,"ujar Syafi'i, Inspektur III, Inspektorat Jenderal Kementerian Agama dikutip dari lama resmi kemenag.go.id

Takwa menunjukkan kadar kesadaran spiritual tingkat tinggi seorang mukmin yang mampu menghadirkan Tuhan dalam setiap pergerakan hati (niat, prasangka), kepala (pikiran), lidah (ucapan), dan tangan (perbuatan)-nya.

BACA JUGA:Kemenkum Sumsel Hadiri Rapat Paripurna DPRD, Bahas Raperda Sumsel Energi Gemilang dan Hasil Reses

Berpuasa tidak sekedar menahan diri dari kebutuhan biologis: makan, minum, dan hubungan seks halal, tetapi menahan diri dari memperturutkan syahwat, nafsu dan ego yang merusak baik berupa kekuasaan, kekayaan, kecerdasan, privilege, dll. 

Syahwat, ego dan hawa nafsu ditundukkan dalam bimbingan hati nurani agar menyerap, menerima, dan memilih jalan kebenaran dan kebaikan. 

Berpuasa yang dijalani dengan niat yang benar (îmânan wa ihtisâban) akan meningkatkan spiritualitas, melatih kesabaran, dan membangun empati serta solidaritas sosial.  

Nabi SAW sudah mengingatkan bahwa banyak yang berpuasa tetapi tidak meraih apapun, kecuali lapar dan haus. Berhasil atau tidaknya meraih manfaat puasa bergantung dari seberapa kita menjalani dan memaknainya.

BACA JUGA:Buka Program Edukasi Pengamatan Hilal, Kemenag Ajak Konten Kreator Kuasai Hisab Rukyat

Pengalaman setiap mukmin berbeda. Bahkan mukmin yang sama bisa merasakan pengalaman yang berbeda pada waktu yang berbeda. Untuk meraih manfaat terbaik sebaiknya dimulai dari memenuhi aspek legal formalnya, syarat dan rukunnya.

Ini sebagai bentuk kepatuhan. Namun, aspek legal formal jangan menjadi jebakan sehingga mengabaikan substansi. Takwa hanya akan diraih jika hati nurani sudah mampu mengontrol semua aktivitas diri.

Takwa, seperti sebuah koin mata uang, memiliki dua sisi: aktif dan pasif. Keduanya terkait dengan dimensi relasi manusia secara vertikal dengan Tuhannya atau relasi horisontal dengan sesama manusia dan alam semesta. 

Dimensi aktif takwa yaitu melakukan setiap perintah Tuhan dan kebaikan, sekecil apapun. Dimensi pasifnya yakni tidak melakukan (berdiam diri) dari melakukan hal yang terlarang dan kesia-siaan, walaupun sebiji zarrah. "Imtitsâlu awâmirillâhi wa ijtinâbu nawâhihi, demikian ulama mendefinisikannya.            

Sumber: