Mobil Listrik Dijegal Tarif Impor, China Mulai Ekspor Mobil Hybrid ke Eropa

Produsen otomotif China mulai beramai-ramai ekspor mobil hybrid di Eropa usai berlakunya tarif impor tinggi terhadap mobil listrik asal negeri tirai bambu--
PALEMBANG, RADARPALEMBANG.ID - Produsen otomotif China mulai beramai-ramai ekspor mobil hybrid di Eropa usai berlakunya tarif impor tinggi terhadap mobil listrik asal negeri tirai bambu.
Para produsen juga menargetkan bisa mengekspor lebih banyak model mobil hybrid ke Benua Biru guna mengakali kebijakan tarif impor terhadap mobil listrik buatan China di Eropa.
Mengutip dari Reuters, saat ini Eropa telah memberlakukan tarif impor tinggi terhadap mobil listrik dari China. Hal tersebut ditempuh akbat mobil China kian membanjiri Eropa.
Namun tarif impor ini tak berlaku untuk mobil hybrid. Dengan cara ini, pabrikan ternama China, seperti BYD, membuka peluang baru untuk melakukan ekspansi bisnis di wilayah tersebut, demikian kata para analis.
BACA JUGA:Bocoran Spesifikasi Mobil Listrik Toyota bZ3C, Bakal Meluncur Awal 2025
BACA JUGA:2025 Mobil Hybrid dan Konvensional Bebas PPN dan PPnBM? Guna Tingkatkan daya Beli Masyarakat
Tak cuma BYD, pabrikan lain juga mulai melakukan peralihan produksi dan perakitan ke Eropa untuk menurunkan biaya terkait tarif impor tersebut.
"Peningkatan ini didorong oleh OEM China yang beralih ke PHEV (plug-in hybrid) sebagai cara untuk menghindari tarif Uni Eropa yang baru untuk impor BEV (mobil listrik bertenaga baterai) dari China," kata Murtuza Ali, seorang analis di Counterpoint Research.
Murtuza memperkirakan ekspor mobil hybrid dari China ke Eropa akan tumbuh 20 persen tahun ini dan bahkan lebih cepat lagi tahun depan.
Adapun Uni Eropa memberlakukan tarif hingga 45,3 persen untuk impor mobil listrik China dan telah berlaku pada akhir Oktober.
BACA JUGA:Alasan Orang Indonesia Lebih Suka Mobil Hybrid Ketimbang Mobil Listrik
BACA JUGA:Segini Beda Pajak Innova Zenix VS Wuling Almaz, Sama-sama Mobil Hybrid Bermesin 2.0 L
Cara ini merupakan upaya untuk melawan subsidi yang dianggap tak adil dan menguntungkan pabrikan China.
Di sisi lain, penjualan mobil di China tengah mengalami perlambatan karena kondisi perekonomian lokal menurun. Alhasil produsen mobil mulai mengalihkan strateginya untuk bertarung di pasar Eropa dengan lebih banyak mobil hybrid.
Sumber: