Telok Abang Sebuah Tradisi Unik Jelang 17 Agutusan yang Hanya Ada di Palembang

Telok Abang Sebuah Tradisi Unik Jelang 17 Agutusan yang Hanya Ada di Palembang

Telok Abang Sebuah Tradisi Unik Jelang 17 Agutusan yang Hanya Ada di Palembang--

PALEMBANG, RADARPALEMBANG.COM - Jelang perayaan peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus (17 agustusan) ada tradisi unik yang hanya terdapat di Kota Palembang.

Tradisi unik tersebut adalah Telok Abang yang hanya ada di bulan agustus jelang peringatan 17 agustusan sebagai hari kemerdekaan Indonesia.

Telok Abang adalah mainan miniatur kapal atau pun pesawat terbang yang terbuat dari kayu gabus dan diberi telur rebus berwarna merah diatasnya.

Terlur rebus yang dicat dengan warna merah itulah yang membuat nama mainan ini disebut Telok Abang (Telur Merah).

BACA JUGA:6 Cara Tradisional Menentukan Jenis Kelamin Bayi yang Masih Dalam Kandungan , Masih Dipercaya Hingga Saat Ini

Telok abang akan ramai dijajakan warga pada awal bulan Agustus hingga tiba hari kemerdekaan Indonesia atau pada 17 Agustusan.

Para pedagang mainan ini ramai berjualan di jalan merdeka tepatnya mulai dari depan kantor Walikota palembang hingga kawasan kampung pempek 26 ilir Palembang.

Mainan ini umumnya terbuat dari kayu gabus yang hanya terdapat di Sumatera Selatan, namun saat ini ada juga yang membuat mainan telok abang dari bahan kardus dan sterofoam.

Usai dibentuk menyerupai pesawat terbang ataupun kapal, barulah mainan ini diberi ornamen seperti bendera-bendera kecil bernuansa kemerdekaan.

BACA JUGA:Resep Bubur Asyura Masjid Suro, Jadi Tradisi Saat Perayan 10 Muharram di Palembang

Selanjutnya mainan replika pesawat terbang atau kapal tersebut di beri kaitan tali yang diikatkan pada seruas bambu sebagai pegangannya.

Dan bila ada yang membeli mainan tersebut barulah, telur rebus yang sudah dicat warna merah ditusukkan diatas maian telok abang.

Tradisi telok abang sudah ada sejak lama di Palembang. Awalnya tradisi ini merupakan peringatan ulang tahun Ratu Belanda,  Ratu Wilhelmina.

Dan usai kemerdekaan makna dari tradisi ini pun berubah sebagai sebagai simbol kemenangan dan kemerdekaan. 

Sumber: