QRIS Didorong ke Asean, Kawal Regional Payment Conectivity, Pesan Penting Diseminasi G20 di Bali Bagian 1

QRIS Didorong ke Asean, Kawal Regional Payment Conectivity, Pesan Penting Diseminasi G20 di Bali Bagian 1

QRIS Didorong ke Asean, Kawal Regional Payment Conectivity--

JIMBARAN, RADAR PALEMBANG - Hingar bingar pelaksanaan Konferensi Tingkat Tinggi atau KTT G20 memang telah usai. Dimana Bali, Indonesia menjadi tuan rumah dari pertemuan rutin 20 negara besar dunia.

Secara kasat mata, pelaksanaan kegiatan berskala internasional tersebut telah mampu menjadi titik bangkit awal provinsi yang terkenal dengan sektor pariwisatanya, usai 2 tahun terdampak pandemi Covid19.

Dimana, selama musibah kesehatan itu, terjadi pembatasan aktivitas sosial masyarakat secara besar-besaran. Jelas, Bali yang mengandalkan pariwisata terdampak langsung turun rating pertumbuhannya.

Data ini dipaparkan dalam diskusi hasil Presidensi G20 Indonesia 2022, di ballroom Hotel Intercontinental, Jimbaran, Bali, yang dihadiri perwakilan Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia atau ISEI dan jurnalis se-Indonesia, Rabu, 7 Desember 2022.

BACA JUGA:Menteri PUPR Mendadak Jadi Fotografer di KTT G20

Jika saat awal pandemi Covid19 melanda, Bali menduduki peringkat ke-34 dengan - 9,7 persen pertumbuhan ekonominya, kini di posisi kuartal III tahun 2022 melejit di peringkat 3, dibawah Maluku Utara dan Sulawesi Tengah.

Tak dipungkiri, salah satu pulihnya perekonomian provinsi terkenal dengan julukan Pulau Dewata ini yakni makin banyak aktivitas wisatawan berkunjung. Dan, G20 juga diyakini berdampak ke pemulihan ekonomi.

Perlu menjadi perhatian, selama pandemi Covid19, digitalisasi payment atau pembayaran menggunakan sistem digital baik itu e-money, m-banking hingga adanya QRIS atau Quick Response Code Indonesian Standard telah makin membumi di kalangan masyarakat.

Saat Pandemi, aktivitas cashless berkurang karena pembatasan aktivitas namun transaksi masyarakat tetap berjalan, terutama melalui sistem daring. 

BACA JUGA:Presidensi G20 Indonesia mendapat Pujian dari PM inggris Rishi Sunak

Wakil Kepala Sekretariat TF G20 Bank Indonesia (BI) Iss Savitri Hafid mengatakan kita telah menghasilkan note sintesa yang menjadi rujukan bagi negara anggota dan non, khususnya negara berkembang untuk sistem keuangan.

Platform itu terbentuk sebagai pengalaman selama pandemi Covid19 melanda dunia. "Finansial sektor policy during covid, hasil G20 tidak selalu satu standar ikuti tapi bisa menjadi sebuah rujukan,"jelas dia.

Idenya, sambung dia, pengembangan di era digital yakni regional payment connectivity, bisa pakai QRIS untuk didorong level Asean kedepan. "Tujuannya penguatan arsitektur internasional menjaga agar sistem Keuangan tidak volatile."

Sistem tersebut, akan menjadi salah satu instrumen bagi Bank Indonesia untuk melakukan intervensi agar mata uang Rupiah terhadap mata uang lain terjaga stabil di level disepakati di dalam APBN.

Sumber: