Dari Infrastruktur ke Kultur: Transformasi Mobilitas Kota Palembang

Jumat 14-08-2026,16:21 WIB
Editor : Swandra Yadi

Pemerintah sebenarnya telah bergerak ke arah ini. Pada 2025 Palembang menambah koridor feeder, termasuk layanan Asrama Haji–Talang Betutu. Dokumen resmi pemerintah kota pada tahun yang sama juga menyebut Palembang telah memiliki LRT, layanan BTS Teman Bus pada dua koridor, serta delapan koridor angkot feeder LRT Musi Emas.

BACA JUGA:LRT Sumsel Angkut 3,3 Juta Penumpang sampai Triwulan III 2025

BACA JUGA:LRT Sumsel Terus Tingkatkan Pelayanan Dukung Mobilitas Masyarakat Palembang

Ini merupakan modal penting. Tetapi banyaknya koridor tidak otomatis berarti jaringan telah efektif. Pertanyaannya harus lebih tajam apakah feeder melewati asal perjalanan masyarakat? Apakah waktu kedatangannya terhubung dengan jadwal LRT? Apakah perpindahan moda nyaman? Apakah perjalanan secara keseluruhan lebih cepat daripada menggunakan sepeda motor? Jika jawabannya belum, maka masalahnya bukan lagi jumlah armada, tetapi desain jaringan.

Tantangan Utama: Menang Melawan Sepeda Motor

Kompetitor utama transportasi umum Palembang bukan moda publik lainnya. Kompetitornya adalah kendaraan pribadi, terutama sepeda motor. Motor menawarkan sesuatu yang sangat sulit dilawan: perjalanan langsung dari pintu ke pintu, fleksibilitas waktu, hampir tanpa waktu tunggu, serta kemampuan menjangkau jalan lingkungan.

Karena itu transportasi umum tidak akan memenangkan masyarakat hanya dengan menawarkan tarif murah. Bahkan feeder gratis sekalipun tidak otomatis menciptakan modal shift apabila perjalanan membutuhkan terlalu banyak waktu, transfer, atau ketidakpastian.

BACA JUGA:Turut Semarakkan HUT ke-80 RI, LRT Sumsel Angkut 58.106 Penumpang Selama Libur Kemerdekaan

BACA JUGA:Penambahan Perjalanan LRT Sumsel Hadirkan Kenyamanan Bagi Pelanggan di Momen HUT RI 17 Agustus 2025

Masyarakat sesungguhnya menghitung biaya perjalanan secara keseluruhan: uang, waktu, kenyamanan, kepastian, serta kemudahan. Inilah sebabnya mengapa indikator transportasi Palembang harus berubah. Jangan hanya mengukur jumlah penumpang LRT, jumlah koridor atau armada.

Ukur pula door-to-door travel time, waiting time, transfer time, load factor, ketepatan headway, kepuasan pengguna, public transport modal share, dan yang terpenting: berapa perjalanan kendaraan pribadi yang berhasil dialihkan. Tanpa indikator ini, angka ridership dapat tumbuh tetapi perubahan perilaku belum tentu terjadi.

Dari Coverage Menuju Accessibility

Palembang juga perlu mengoreksi cara membaca cakupan pelayanan. Sebuah kawasan dapat terlihat terlayani di peta karena dilalui feeder atau berada dekat stasiun. Namun akses itu belum tentu nyata bagi pengguna. Jalan menuju halte mungkin tidak nyaman.

BACA JUGA:Cukup Bayar Rp 80, Nikmati Perjalanan LRT ke Festival Perahu Bidar 2025

BACA JUGA:Peringati HUT RI, Naik LRT Hanya Bayar Rp 80, Berlaku 15 hingga 17 Agustus di 5 Stasiun Saja, Cek di Sini

Penyeberangan kurang aman. Informasi kedatangan tidak tersedia. Jarak perpindahan antarmoda terlalu jauh. Atau feeder tidak datang ketika penumpang membutuhkannya. Karena itu coverage harus berubah menjadi effective accessibility.

Kategori :