PALEMBANG, RADARPALEMBANG.ID - Mengenal tradisi Ceng Beng (Qingming) adalah ziarah kubur tahunan masyarakat Tionghoa untuk menghormati leluhur, biasanya jatuh pada 4-5 April.
Keluarga membersihkan makam, menyajikan makanan, membakar dupa/kertas sembahyang (kim cin), dan berdoa, sebagai wujud bakti (Xiao) dan ajang berkumpul. Tradisi ini memperkuat tali silaturahmi keluarga.
Tradisi ini dilakukan turun-temurun, baik oleh penganut Khonghucu maupun Buddha, dan sangat kental dirayakan di Indonesia, terutama di kota-kota seperti Pangkalpinang dan Palembang
Tradisi Ceng Beng (Qingming) di Palembang tahun 2026 diperkirakan berlangsung meriah sekitar awal April, dengan puncak ziarah kubur leluhur etnis Tionghoa umumnya jatuh pada tanggal 4 atau 5 April.
BACA JUGA: Imlek Bersama Warga Tionghoa, Tegaskan Komitmen Harmoni dan Persatuan di Sumsel
Warga Tionghoa dari berbagai daerah, bahkan luar negeri, pulang kampung untuk bersembahyang di kompleks pemakaman seperti Talang Kerikil.
Berikut adalah poin penting Ceng Beng di Palembang:
Waktu Pelaksanaan: Ritual utama berlangsung di sekitar tanggal 4-5 April setiap tahunnya. Puncak pada 5 April, namun ziarah sering dilakukan 10 hari sebelum atau setelahnya.
Ritual Utama: Membersihkan makam (pendem), menabur bunga, membakar dupa (hio), lilin, dan kertas sembahyang sebagai bekal arwah di alam baka.
BACA JUGA:Filosofi Mie Panjang Umur dalam Tradisi Imlek Dipercaya Membawa Keberuntungan
Inti Tradisi: Ziarah kubur untuk menghormati leluhur, membersihkan makam, dan sembahyang.
Sesajian: Buah-buahan (samkuo), makanan (sam sang/daging hewan, kue), dan arak.
Makna: Penghormatan kepada leluhur, pengingat akar budaya, dan ajang reunian keluarga besar.
Aturan/Pantangan: Hindari memakai baju merah mencolok, dilarang berfoto di makam, dan sebaiknya tidak dilakukan oleh wanita hamil atau saat kondisi kurang sehat.
BACA JUGA:Festival Perahu Bidar, Kental dengan Tradisi Budaya Angkat Pariwisata Kota Palembang