Pendekatan ini mirip dengan Model 3 versi dasar di Meksiko, yang juga menggunakan kursi berbahan kain dan sistem audio sederhana.
BACA JUGA:Awal 2024 Tesla Kembali Jadi Raja Mobil Listrik Dunia, Sempat Digeser BYD Pada Akhir 2023
BACA JUGA:Jadi Raja Produsen Mobil Listrik, China Malah Beli Tesla Untuk Jadi Mobil Dinas
Meski minim fitur, Tesla tetap mengedepankan fungsionalitas dasar agar mobil tetap nyaman digunakan untuk kebutuhan harian.
Tak hanya kenyamanan, sejumlah fitur keselamatan pun ikut dipangkas. Kamera mundur misalnya, tidak lagi dilengkapi pemanas sehingga berpotensi menyulitkan saat cuaca dingin.
Lebih mengejutkan lagi, sistem pemantau tekanan ban (TPMS) yang sudah jadi standar di banyak mobil modern justru tidak tersedia di E41.
Sistem audio pun dikurangi hanya ke paket dasar “Essential”. Hal ini memperkuat kesan bahwa E41 memang ditujukan bagi mereka yang lebih mengutamakan harga dibanding kelengkapan fitur.
BACA JUGA:Tak Main-main, Ini 4 Investasi Tesla di Malaysia, Nomor 3 Paling Buat Iri Indonesia
Meski demikian, langkah Tesla ini cukup berani. Strategi menghadirkan varian murah bisa menarik konsumen baru yang selama ini menunggu Tesla dengan harga terjangkau.
Namun di sisi lain, risiko yang muncul adalah citra premium Tesla bisa tergerus, sekaligus kemungkinan pembeli lebih memilih varian murah ketimbang versi yang lebih mahal.
Tesla belum merilis jadwal peluncuran resmi untuk Model Y E41. Namun, berbagai bocoran menyebutkan harga akan dipatok mulai €29.900 atau sekitar Rp530 jutaan.
Dengan banderol tersebut, Model Y versi murah ini bisa menjadi pintu masuk baru bagi konsumen yang ingin memiliki Tesla.