Namun hanya dalam hitungan hari, rencana tersebut menguap. Pada Februari 2025 rencana kerjasama mereka dipastikan gagal, dan di saat bersamaan Nissan terpuruk lebih dalam dan mengalami kondisi terburuk dalam 26 tahun terakhir.
BACA JUGA:Nissan Pamerkan The All New Serena e-Power di GIIAS Surabaya 2024, Segini Harganya
BACA JUGA:Mitsubishi Resmi Gabung ke Nissan dan Honda Garap Kendaraan Elektrifikasi Mobil Listrik
Kebijakan kenaikan tarif yang terapkan Presiden AS Donal Trump menjadi pukulan telak buat banyak produsen otomotif Jepang. Namun buat Nissan, efeknya terasa lebih besar lagi.
Sementara itu, Bloomberg melaporkan kalau masalah yang dihadapi Nissan bukan sebatas penjualan. Nissan dihadapkan pada kewajiban bayar utang jatuh tempo sebesar US$ 1,6 miliar (sekitar Rp 26,4 T) pada tahun ini, dan meningkat menjadi US$ 5,6 miliar (sekitar Rp 92,5 T) pada 2026.