Crimo juga menyertakan foto ketika hadir di kampanye Donald Trump. Termasuk foto konvoi kendaraan Trump. Juga atribut kampanyenya.
Tapi polisi tidak menemukan motif rasis atau agama dalam aksi Crimo ini.
Ia memang pernah dua kali dicurigai. Pertama, ketika keluarga mengadukan ucapan Crimo. Ia bilang akan membunuh semua orang. Polisi menemukan banyak pisau, belati, dan parang di rumah Crimo. Tapi itu tersimpan rapi seperti sebuah koleksi. Tidak jadi masalah.
Yang kedua, ketika Crimo akan bunuh diri. Tapi tidak jadi. Selesai. Itu urusan kejiwaan. Bukan kriminal. Tidak harus polisi yang turun tangan, tapi psikolog profesional.
Selebihnya tidak ada catatan kriminal apa-apa. Karena itu ia bisa lolos ketika membeli senjata semiotomatis. Dan ternyata ia masih punya senjata yang lain lagi di rumahnya.
Bagaimana Crimo bisa lolos dari atas atap?
Rupanya, ketika naik tangga darurat ke atas bangunan, ia membawa tas. Itu tidak hanya berisi senjata. Juga berisi pakaian wanita. Dan make-up.
Begitu selesai memberondongkan peluru Crimo ganti baju. Ia pakai baju wanita. Ia menjadi seperti seorang gadis. Lalu turun tangga belakang. Lalu membaur ke peserta karnaval. Ia ikut lari terbirit. Sambil memanggul tas. Ia lari ke arah barat. Tidak ada yang memperhatikannya.