Dari Infrastruktur ke Kultur: Transformasi Mobilitas Kota Palembang
Dr Robby Kurniawan SSTP MSi MMTr--
Oleh: Dr Robby Kurniawan SSTP MSi MMTr
(Staf Ahli Menteri Perhubungan Bidang Kawasan dan Lingkungan serta Dewan Penasehat Masyarakat Transportasi Indonesia)
RADARPALEMBANG.ID - Palembang memiliki sesuatu yang belum dimiliki banyak kota besar di Indonesia, yaitu angkutan massal berbasis rel sebagai tulang punggung transportasi perkotaan.
Sejak LRT Sumatera Selatan beroperasi, kota ini sesungguhnya telah memiliki modal penting untuk keluar dari ketergantungan terhadap kendaraan pribadi. Infrastruktur tersedia, feeder berkembang, subsidi diberikan, dan integrasi moda terus didorong.
Namun delapan tahun setelah LRT hadir, pertanyaan yang lebih penting bukan lagi apakah Palembang memiliki transportasi publik modern.
Pertanyaannya adalah apakah sistem itu sudah cukup menarik untuk mengubah cara masyarakat Palembang bergerak? Di sinilah ujian sesungguhnya.
BACA JUGA:LRT Sumsel Operasikan 96 Perjalanan Setiap Sabtu di Bulan Agustus 2026
Data Badan Pusat Statistik Sumatera Selatan menunjukkan bahwa pada Juli 2025 LRT melayani sekitar 400.949 penumpang. Pada Oktober 2025 jumlahnya mencapai 403.889 penumpang. Angka tersebut memperlihatkan bahwa LRT mempunyai basis demand yang nyata.
Tetapi angka penumpang juga perlu dibaca secara kritis. Pada Februari 2025, misalnya, jumlah penumpang LRT tercatat 328.361 orang, turun 16,32 persen dibandingkan Januari. Fluktuasi seperti ini menunjukkan bahwa demand angkutan umum masih sensitif terhadap kualitas jaringan, kebutuhan perjalanan, kalender aktivitas, serta kemudahan integrasi dengan moda lain.
Pemerintah Kota Palembang sendiri pada Juni 2025 mengakui adanya kecenderungan menurunnya minat masyarakat terhadap sebagian transportasi umum, meskipun penggunaan feeder LRT gratis disebut cukup tinggi. Fenomenanya menjadi menarik.
Palembang bukan kekurangan infrastruktur. Palembang menghadapi persoalan bagaimana mengubah infrastruktur menjadi kebiasaan perjalanan.
BACA JUGA:LRT Sumsel Izinkan Penumpang Makan-Minum di Kereta Selama Ramadan 2026
BACA JUGA:Malam Tahun Baru 2026, LRT Sumsel Beroperasi Hingga 02.09 WIB
LRT Bukan Tujuan, tetapi Backbone
Kesalahan terbesar dalam menilai keberhasilan LRT adalah memperlakukannya sebagai moda yang berdiri sendiri. Masyarakat tidak membutuhkan LRT. Masyarakat membutuhkan perjalanan dari rumah menuju kantor, sekolah, kampus, pasar, rumah sakit, bandara, atau pusat kegiatan dengan mudah dan pasti.
Sumber:



