BANNER BSB
Banner Honda PCX 160 2025

Global Highlights Hari Ini, China Defisit Anggaran 4 Bulan Pertama 2025 hingga Ekspor Jepang Melambat

Global Highlights Hari Ini, China Defisit Anggaran 4 Bulan Pertama 2025 hingga Ekspor Jepang Melambat

Presiden China Xi Jinping.--

PALEMBANG, RADARPALEMBANG.ID - Bursa saham Amerika Serikat, Wall Street, ditutup turun tajam pada Rabu 21 Mei 2025, akibat kekhawatiran pasar terhadap lonjakan utang pemerintah AS yang mencapai triliunan dolar.

"Kekhawatiran ini turut memicu kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah bertenor 10 tahun menjadi 4,589 persen, bahkan sempat menyentuh level tertinggi sejak pertengahan Februari,"tulis Bursa Efek Indonesia atau BEI dalam laporannya yang diterima radarpalembang.id, Kamis 22 Mei 2025.

Dari 11 sektor dalam indeks S&P 500, tulis BEI, sebanyak 10 sektor mengalami penurunan, terutama sektor properti, layanan kesehatan, keuangan, utilitas, barang konsumsi non-primer, dan teknologi. 

"Hanya sektor layanan komunikasi yang mencatat penguatan, didorong oleh kenaikan saham Alphabet sebesar 2,7 persen,"tulis BEI dalam laporannya.

BACA JUGA:Global Highlights Hari Ini, Negoisasi Dagang AS dan Tiongkok Sepakat Tarif Turun dan Elon Tetap Pimpin Tesla

BACA JUGA:Global Highlights Hari Ini, Sinyal The Fed Pangkas Suku Bunga 3 Bulan Kedepan, Properti Tiongkok Turun

Sementara itu, saham Nvidia turun 1,9 persen, Apple melemah 2,3 persen, dan Tesla merosot 2,7 persen. 

Meskipun begitu, indeks S&P 500 masih mencatat kenaikan lebih dari 17 persen sejak titik terendah pada April ketika kebijakan tarif balasan dari Trump mengguncang pasar global.

Pemerintah China memperbesar pengeluaran fiskal sehingga menyebabkan defisit anggaran selama empat bulan pertama tahun ini mencetak rekor tertinggi. 

Langkah ini diambil untuk menopang perekonomian di tengah memanasnya tensi dagang dengan Amerika Serikat. 

BACA JUGA:Global Highlights Hari Ini, Rencana Trump Temui Xi Jinping di Tiongkok, Moody's Turunkan Peringkat Kredit AS

BACA JUGA:Global Highlights Hari Ini, Keyakinan Investor AS Cabut Tarif Tinggi Penyebab Inflasi Harga Konsumen

Berdasarkan data Kementerian Keuangan China pada Selasa (20 Mei 2025), defisit anggaran mencapai 2,65 triliun yuan (sekitar Rp6.020 triliun) sepanjang Januari hingga April dan menjadi angka tertinggi untuk periode tersebut dan meningkat lebih dari 50 persen dibandingkan tahun lalu. 

Hal ini menjadi indikasi kuat bahwa Beijing tengah mempercepat realisasi stimulus fiskal yang telah direncanakan guna menahan dampak dari tekanan eksternal terhadap ekonominya.

Sumber:

Berita Terkait