Bukti Nyata Kerja Keras, Petani PALI Ini Puluhan Tahun Tak Pernah Beli Beras
Keberhasilan Indayani dalam mencukupi pangan keluarga tak pernah lepas dari peran Pertamina EP Adera Field yang selalu melakukan pendampingan.-maman/radarpalembang.id-
PALI, RADARPALEMBANG.ID - Salah satu petani asal Desa Pengabuan, Kecamatan Abab Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI) membuktikan hasil kerja kerasnya yang menggarap lahan tidur juga terbengkalai sejak tahun 1980-an dengan ditanami padi, meski awalnya berjibaku menggunakan alat manual.
Dialah Indayani (34), pria yang kini dipercaya sebagai Ketua Kelompok Tani Barokah Desa Pengabuan mengaku, keringat yang dikeluarkannya sejak terjun ke dunia pertanian tahun 2014 berbuah manis serta mampu menopang perekonomian keluarganya.
Pasalnya, Indayani sudah 12 tahun tak pernah beli beras sejak membuka lahan yang terbengkalai puluhan tahun lalu digarapnya. Kemudian setiap hasil panen yang didapat selalu disisihkan untuk kebutuhan pangan sehari-hari dan sisanya dijual yang tentunya menambah penghasilan bagi dirinya.
Keberhasilan Indayani dalam mencukupi pangan keluarga tak pernah lepas dari peran Pertamina EP Adera Field yang selalu melakukan pendampingan terhadap kelompok tani yang telah dibentuknya.
BACA JUGA:Terbengkalai Sejak 1980-an, Lahan Pertanian di Pengabuan Kini Produktif
BACA JUGA:Dongkrak Hasil Panen hingga 50 Persen, IPB Training Latih Ratusan Petani Sawit Muara Enim
Terlebih sejak tahun 2016, hamparan lahan yang terbentang dengan kondisi rawa-rawa ditumbuhi semak belukar dan kayu-kayuan dibuka pemerintah melalui program cetak sawah.
Seiring waktu pasca dibuka lahan melalui cetak sawah juga pendampingan Pertamina Adera melalui Program PERMATA atau Pertanian Mandiri Desa Tangguh, hasil panen Indayani serta anggota kelompoknya kini semakin meningkat yang menghasilkan padi juga beras.
Hasil panen dari lahan yang digarapnya, bukan hanya untuk dikonsumsi melainkan sudah menghasilkan cuan yang mampu meningkatkan kesejahteraan bagi dirinya dan anggota kelompoknya.
"Kami sudah lama tidak membeli beras bahkan sudah bisa menjualnya," ungkap Indayani saat kegiatan panen bersama padi varietas Srai pada Kamis 17 September 2026.
Tidak berhenti disitu, melihat limbah pertanian yang melimpah dan hanya dibakar jadi abu, Indayani dan anggota kelompoknya memutar otak agar sesuatu yang tak bernilai mampu menghasilkan uang.
Alhasil, limbah pertanian berupa jerami disulap menjadi kerajinan yang bernilai ekonomi yang kini terus dikembangkan dan mulai dipasarkan dengan bimbingan dari Pertamina EP Adera Field.
Sumber:



