Ini 6 Langkah Strategis Pemerintah Hadapi Krisis dan Tekanan Global

Minggu 07-08-2022,00:46 WIB
Editor : Yurdi Yasri

RADAR PALEMBANG – Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) meluncurkan langkah strategis pemerintah untuk menghadapi tekanan krisis global.

Langkah strategis pemerintah hadapi krisis global dan tekanan global itu disampaikan oleh Ketua KSSK Srimulyani Indrawati yang juga menjabat sebagai Menteri Keuangan, usai rapat dengan KSSK akhir pekan lalu.

Sri Mulyani menyampaikan beberapa langkah strategis itu sebagai berikut:

1.Pengendalian Inflasi.

Upaya untuk mengendalikan inflasi dan melindungi daya beli melalui instrumen fiskal ditempuh dengan: Pertama enjaga harga jual BBM, LPG dan listrik (administered price) tidak naik.

BACA JUGA:Arah Moneter Negara Maju Berubah, Sri Mulyani: OJK Jangan Lengah

Kedua, pemberian insentif selisih harga minyak goreng agar harganya tetap terjangkau bagi masyarakat. Pergeseran Pola Transaksi Nasabah dan Penyaluran PEN.

Ketiga, Pemberian Bantuan Langsung Tunai (BLT) Pangan. Keempat, menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok dalam negeri melalui cadangan stabilisasi harga pangan (CSHP), antara lain kedelai dan jagung.

Dan yang kelima, Penurunan pungutan ekspor untuk mendorong peningkatan ekspor dan sekaligus mendorong kenaikan harga Tandan Buah Segar (TBS) di level petani (PMK No.115/PMK.05/2022).

2. APBN 2022 Tetap Fleksibel

BACA JUGA:Ini 10 Bauran Kebijakan BI Terbaru Hadapi Tekanan Ekonomi Global

Untuk antisipasi ketidakpastian, antara lain dengan penerapan automatic adjustment, maka APBN akan didorong tetap fleksible. Langkah-langkahnya adalah;

Pertama, mendorong program PEN tetap responsif dan antisipatif diselaraskan dengan perkembangan Covid-19 dan tren pemulihan ekonomi.

Kedua, Penguatan dukungan untuk UMKM, antara lain melalui program KUR dan penjaminan. Ketiga, Menjaga pasokan batu bara untuk kebutuhan dalam negeri dalam rangka menjaga ketahanan energi (PMK No.17/PMK.02/2022).

Keempat, dukungan untuk proyek padat karya, pariwisata, ketahanan pangan;, dan Kelima, Insentif perpajakan PPh pasal 22 impor.

 

3. APBN Sebagai Shock Absorber

Adapun upaya untuk menjaga agar peran APBN sebagai shock absorber dapat berfungsi optimal, maka keberlanjutan fiskal jangka menengah – panjang perlu dijaga melalui: Pertama, menjaga reformasi fiskal dan reformasi struktural dapat berjalan efektif.

BACA JUGA:KSSK Beberkan 6 Kekuatan Ketahanan Ekonomi Indonesia Hadapi Krisis Global, Ini Langkah Strategis Pemerintah

Kedua, Komitmen seluruh K/L untuk penguatan spending better, penerapan zero based budgeting, agar belanja lebih efisien namun tetap produktif untuk menstimulasi perekonomian. Dan ketiga, Mengendalikan defisit dan utang dalam batas aman melalui komitmen konsolidasi fiskal pada tahun 2023.

 

4. Pasar Modal Indonesia

Sementara kinerja pasar saham masih mampu menguat 5,70% (ytd) ke level 6.898,22 per 27 Juli 2022 dan termasuk dalam bursa saham dengan kinerja terbaik di kawasan.

Hal ini ditunjang dengan net buy nonresiden di pasar saham Rp58,29 triliun di tengah volatilitas pasar keuangan global.

BACA JUGA:Sri Mulyani: Ekonomi Indonesia Cukup Kuat Hadapi Tekanan Risiko Global

Namun demikian, perlu dicermati bahwa tekanan terhadap pasar keuangan global juga sudah mulai berdampak pada pasar saham domestik.

Hal ini terlihat dari meningkatnya volatilitas di pasar saham domestik dan kendati secara ytd nonresiden masih mencatatkan inflow sebesar Rp58,29 triliun, namun sejak bulan Mei hingga 27 Juli 2022 telah mencatat net sell sebesar Rp13,88 triliun, sejalan dengan outflow di emerging economy lainnya.

 

5.Menjaga Risiko Kredit

Saat ini resiko masih terjaga, baik pada industri perbankan maupun pembiayaan didukung likuiditas yang memadai dan permodalan yang kuat.

BACA JUGA:Tahun 2022, Pendapatan Negara Lampaui Target, Menkeu Sri Mulyani Beberkan Basisnya

NPL gross perbankan per Juni 2022 terpantau turun menjadi sebesar 2,86%, sementara rasio NPF perusahaan pembiayaan di level 2,81%.

Begitu juga dengan likuiditas perbankan memadai dengan rasio Alat Likuid/Non-Core Deposit (AL/NCD) di level 133,35% dan Alat Likuid/DPK (AL/DPK) di level 29,99% pada Juni 2022.

Ketahanan permodalan industri jasa keuangan memadai dengan CAR perbankan mencapai 24,69%, sejalan dengan kuatnya permodalan industri asuransi jiwa dan asuransi umum dengan Risk-Based Capital (RBC) masing-masing di level 481,01% dan 318,24%.

Demikian juga halnya dengan gearing ratio perusahaan pembiayaan yang sebesar 1,98 kali. Dalam rangka menjaga SSK di tengah meningkatnya risiko eksternal, OJK akan proaktif memperkuat kebijakan prudensial di sektor jasa keuangan dalam menjaga stabilitas industri jasa keuangan.

 

6.Penguatan LPS

Dari penjaminan simpanan, jumlah rekening nasabah yang dijamin seluruh simpanannya oleh LPS per Juni 2022 sebanyak 99,93% dari total rekening atau setara 484,74 juta rekening. Tingkat Bunga Penjaminan (TBP) perbankan dipertahankan di level 3,50% untuk simpanan dalam Rupiah dan 0,25% untuk simpanan valuta asing di Bank Umum.

BACA JUGA:Pada Pertemuan Menkeu dan Gubernur Bank Sentral G20, Sri Mulyani Pamer Strategi Investasi Berkelanjutan

Sedangkan untuk simpanan Rupiah di BPR tetap di level 6,0%.   Keputusan tersebut sejalan dengan laju penurunan suku bunga simpanan perbankan yang mulai terbatas. Prospek likuiditas yang relatif stabil, serta optimisme terhadap perkembangan SSK terkini.

‘’Ini diperkuat dengan sinergi kebijakan lembaga anggota KSSK dalam mendukung pemulihan perekonomian. Ke depan, LPS akan terus melakukan asesmen terhadap perkembangan kondisi perekonomian dan perbankan serta dampaknya pada penetapan TBP,’’ujar Sri Mulyani.

Terakhir Sri Mulyani menyampaikan, KSSK akan terus mencermati perkembangan berbagai faktor risiko baik global maupun domestic. Lembaga yang dia pimpin itu akan terus melakukan langkah-langkah kebijakan yang terkoordinasi.

‘’Semua itu   untuk menjamin optimalisasi dan efektivitas kebijakan dalam menjaga SSK serta mendukung penguatan pemulihan ekonomi,’’pungkas Srimulyani.(yurdi yasri)

 

 

 

Kategori :