Lomba Hias Bunga Telur Jadi Upaya Lestarikan Tradisi Bugis di Banyuasin
Tradisi menghias bunga telur atau male (malai) menjadi salah satu bentuk budaya masyarakat Bugis yang terus dipertahankan di Banyuasin. --
BANYUASIN, RADARPALEMBANG.ID – Tradisi menghias bunga telur atau yang dikenal sebagai male (malai), menjadi salah satu bentuk budaya masyarakat Bugis yang terus dipertahankan di Banyuasin.
Tradisi tersebut turut diperkenalkan melalui perlombaan yang melibatkan masyarakat dalam sebuah kegiatan di Desa Bunga Karang, Tanjung Api-api, Banyuasin.
Tradisi male dalam masyarakat Bugis sendiri merupakan hiasan atau pajangan berbentuk unik yang dihiasi telur rebus warna-warni, biasanya dibawa ke masjid untuk merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW
Ketua Ikatan Wanita Sulawesi Selatan (IWSS) Cabang Banyuasin, Hj Rohana Andi Sose mengatakan, kegiatan lomba male menjadi salah satu cara untuk mempertahankan adat istiadat dan budaya Bugis agar tetap dikenal serta diwariskan kepada generasi berikutnya.
BACA JUGA:IWSS Sumsel dan Kota Palembang Meriahkan HUT ke-81 RI Jalan Santai hingga Lomba Seru
BACA JUGA:Rapat Harmonisasi, Kemenkum Sumsel Dorong Pembentukan Regulasi Kabupaten Banyuasin Berkualitas
Menurutnya, membuat male atau hiasan bunga telur merupakan salah satu adat budaya Bugis yang memiliki nilai tradisi tersendiri.
“Sebagai salah satu contohnya, sebagai adat budaya Bugis, yaitu membuat male telur,” ujarnya.
Untuk menambah semangat peserta, panitia juga menyediakan hadiah bagi para pemenang lomba. Hadiah diberikan dalam bentuk trofi dan uang pembinaan.
Untuk juara pertama, hadiah yang disiapkan mencapai Rp1 juta. Selain kategori lomba male juara 1, 2, dan 3, terdapat pula kategori lainnya, seperti lomba pohon pisang serta juara hiburan.
BACA JUGA:Tegas! Pemkab Banyuasin Potong TPP ASN yang Manfaatkan WFH untuk Libur Panjang
BACA JUGA:Banyuasin Mendunia, Ekspor Pakan Hewan Pertama di Indonesia
Secara keseluruhan, terdapat enam pemenang yang mendapatkan penghargaan dari berbagai kategori perlombaan tersebut.
Ia berharap kegiatan seperti ini dapat terus berkembang dan menjadi bagian dari upaya mempertahankan adat istiadat suku Bugis di tengah perkembangan zaman.
Sumber:



